PAK Tentang Injil Yohanes
PAK Tentang Latar Belakang Injil Yohanes: Oleh Dr. Yonas Muanley, M.Th.
A. Penulis
Salah satu pokok penting untuk memahami isi suatu tulisan adalah mengetahui siapa penulisnya. Dalam hal ini untuk memahami isi Injil Yohanes, baik secara menyeluruh maupun perikop-perikop tertentu maka perlu mengetahui siapa penulis Injil Yohanes. Dalam konteks pemahaman seperti itulah maka perlu membahas penulis Injil Yohanes. Menurut Ola Tulluan, Injil Yohanes ditulis oleh seorang Yahudi yang mengenal beberapa hal, yaitu:
(1) Mengenal Palestina secara dekat.
(2) Mengetahui hubungan antara orang Yahudi dan orang Samaria yang tidak begitu ramah, tidak bergaul (bnd. Yoh. 4:2)
(3) Mengetahui percekcokan antara orang Yahudi dan Samaria tentang tempat ibadah (bnd. Yoh. 4:2)
(4) Mengetahui hari raya Yahudi dari segi waktu dan artinya (bnd. Yoh. 7:2, 11:55)
(5) Mengenal geografi Galilea (bnd. Yoh. 1:44, 2:1), Samaria (bnd. Yoh. 4:5), Yerusalem dan sekitarnya (bnd. Yoh. 11:8).[1]
Selain mengenal beberapa hal di atas, penulis Injil Yohanes memperkenalkan dirinya bahwa ia adalah saksi mata dari peristiwa-peristiwa yang dilaporkannya (bnd. Yoh. 1:14, 19:35). Hal ini hendak menegaskan bahwa penulis adalah saksi langsung atau saksi mata yang mengerti akan rahasia Injil Yesus Kristus.
Pada ayat-ayat selanjutnya khususnya dalam Yohanes 21:24, dinyatakan bahwa Injil ini ditulis oleh “kita” dalam kata Yunani dipakai oi;damen, orang pertama jamak dari kata oi;da, berarti “kita/kami tahu”[2] mengenai kesaksian murid yang dikasihi,[3] yaitu Yohanes anak Zebedeus tentang Yesus dan “kita” menegaskan bahwa kesaksian murid yang dikasihi itu benar. Tampaknya, Injil ini menyatakan hubungan yang akrab antara Yesus dan Yohanes yang menegaskan bahwa kesaksiannya mengenai Yesus (bnd. 13:23; 21:20).
Dalam Yohanes 8:40, penulis injil ini menerangkan bahwa Yesus menyebut diri-Nya “seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu” (Yoh. 8:40). Oleh karena kesaksian Yesus itu benar, maka semestinya Pilatus tidak lagi mengajukan pertanyaan “apakah kebenaran itu?” (18:38). Sebenarnya Yesus telah mempertegas “Akulah jalan, dan kebenaran, dan hidup” (14:7) dan bahwa “firman-Mu adalah kebenaran” (Yoh. 17:17). Selanjutnya disebutkan bahwa Roh Kudus yang akan “memimpin kamu ke dalam segala kebenaran” (16:13). Jadi, sebenarnya keabsahan kebenaran pengajaran dan karya Yesus dapat diterima dan bukan untuk diragukan.[4] Akan tetapi pada waktu itu, tidak semua orang pada waktu itu menerima bahwa Yesus adalah kebenaran dan bahwa ajaran-Nya adalah kebenaran.[5]
Merujuk pada informasi dalam Injil Yohanes, ada kesulitasn untuk memastikan siapa penulis Injil Yohanes tidak menyebutkan namanya. Jadi ada ada beberapa kemungkinan bahwa penulis Injil ini adalah Yohanes anak Zebedeus. Dalam Injil Yohanes 1:35-51 dikatakan bahwa bahwa ada dua murid yang mengikuti Yesus (bnd. Yoh.1:37), nama murid yang pertama adalah Andreas (bnd. Yoh. 1:40), nama yang kedua tidak disebut.Sementara nama muid-murid yang lain disebut. Dengan demikian dipastikan bahwa hanya nama Yohanes yang tidak disebut. Gaya penulisan yang demikian itu dipastikan biasanya dilakukan oleh penulis yang biasanya menyebut nama orang lain tetapi namanya sendiri tidak disebutkan. Sehingga dipastikan bahwa yang menulis Injil Yohanes adalah Yohanes sendiri, dialah yang dimaksudkan dalam Yoh. 1:40.
Kepastian di atas searah dengan penegasan David Iman Santoso yang menyatakan bahwa rasul Yohanes adalah anak Zebedeus, seorang nelayan dari Galilea (bnd. Mark. 1:20). Santoso melanjutkan komentarnya dengan menyatakan bahwa keluarga Zebedeus mempunyai relasi yang baik di kota Yerusalem, sebab Yohanes dikenal oleh imam besar (bnd. Yoh. 18;16), diperkirakan keluarga Zebedeus memiliki rumah di Yerusalem sehingga ketika Yesus menyerahkan pemeliharaan ibu-Nya kepada Yohanes yang memiliki rumah ayahnya di Yerusalem.[6]
Pernyataan di atas menegaskan bahwa penulis Injil Yohanes adalah Yohanes anak Zebedeus. Kepastian ini sesuai dengan pengakuan gereja mula-mula yang tidak ragu-ragu menerima Injil Yohanes sebagai Injil yang ditulis oleh Yohanes. Seorang uskup yaitu Ireneus yang hidup antara tahun 142 – 202 Masehi menyatakan bahwa: “Yohanes murid Tuhan Yesus, dan yang bersandar dekat kepada-Nya, menulis Injil ke-4 pada waktu dia tinggal di Efesus. Klemens dari Alxandria juga membenarkan bahwa Yohaneslah yang menulis Injil Yohanes.[7]
Ada tradisi yang kuat, didukung oleh bukti dari sumber-sumber purba, yang menyatakan bahwa penulis Injil Yohanes adalah rasul Yohanes. Dalam Injil ini sendiri tidak ada hunjukan tentang siapa penulisnya. Karena itu perlu dipertimbangkan dengan seksama bukti luar itu untuk menentukan apakah ia dapat dipercayai. Sekurang-kurangnya pada masa Irenaeus (kira-kira 150 Masehi) orang mengakui bahwa Injil ini ditulis oleh rasul Yohanes, dan kesaksian Irenaeus ini diperkuat oleh kemungkinan bahwa ia berkenalan dengan tradisi otentik melalui perkenalannya yang terdahulu dengan Polykarpus. Polykarpus tidak menghunjuk kepada atau mengutip dari Injil Yohanes dalam suratnya kepada orang Filipi, tapi ini tidak berarti bahwa dia tidak kenal Injil ini. [8]
Satu-satunya penolakan terhadap kepenulisan oleh rasul Yohanes datang dari suatu kelompok yang dikenal dengan nama Alogoi, yang rupa-rupanya adalah suatu kelompok pecahan kecil di Roma. Pandangan mereka ditolak oleh Hyppolytus yang menulis pembelaan atas Injil Yohanes. Tidaklah mudah memastikan sejarah Yohanes sebelum Irenaeus. Tapi tentunya Injil Yohanes telah dianggap selaku kitab yang berwibawa untuk waktu yang cukup lama jika ditempatkan secara tak tertampkk pada taraf yang sama dengan ketiga injil lainnya selaku bagian dari Injil yang rangkap empat.
Beberapa pertimbangan yang bersumberkan isi Injil Yohanes memperkuat, walaupun tidak memastikan kebenaran tradisi, sebagaimana misalnya: Yohanes 19:35, "Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebesaran, supaya kamu juga percaya." Yohanes 21:24, "Dialah murid, yang memberi kesaksian tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu, bahwa kesaksiannya itu benar."
Walaupun seluruh hunjukan ini dipahami secara berlainan oleh sementara ahli-ahli, namun adalah masuk akal untuk melihat ayat-ayat ini selaku tuntutan penulis sendiri bahwa ia adalah saksi mata. Lagipula, Yohanes, anak Zebedeus, tidak disinggung dalam Injil ini, sedangkan Yohanes Pembaptis hanya disebut Yohanes, tanpa penjelasan selanjutnya. Hal ini pastilah lebih dapat dipahami jika penulis adalah Yohanes anak Zebedeus. Suatu pertimbangan selanjutnya ialah sebutan tanpa menyebut nama tentang "murid yang dikasihi Yesus", yang mungkin merupakan hunjukan kepada Yohanes, rasul itu.
Penulis nampaknya memiliki pengetahuan terinci tentang Palestina dan adat-istiadat Yahudi. Adalah masuk akal bila dia Yahudi Palestina, walaupun bukti ini tidak menuntut hal ini. Ia dapat memperoleh informasinya dari sumber lain.
Banyak rincian yang sambil lalu turut menyarankan bahwa pengamatan saksi mata berada di belakang Injil Yohanes, umpamanya jumlah tempayan air di Kana dan jumlahikan yang ditangkap di Danau Galilea ketika Yesus menampakkan diri kepada murid-murid sesudah kebangkitan-Nya. Rincian-rincian seperti ini tidaklah hakiki dalam cerita, tetapi menambah hidupnya cerita.
Sekalipun demikian, ciri-ciri Helenistis dari Injil Yohanes ini dikatakan oleh sementara orang justru melawan ketelitian tradisi purba, karena rasul Yohanes bukanlah Yahudi Helenistis. Lagipula, kesejajaran-kesejajaran dengan risalah-risalah filosofis non-Kristen yang dikenal dengan nama 'Hermetica' dikemukakan untuk mendukung pendapat ini. Melawannya,memang benar bahwa ada kesejajaran-kesejajaran dalam peristilahan Yohanes dengan Philo dari Alexandria dan Hermes, tapi ini tidaklah menunjukkan bahwa penulis haruslah seorang Helenis.
Pengetahuan yang baik dari penulis tentang metode-metode pembahasan orang rabi adalah satu alasan lain mengapa beberapa ahli menolak kepenulisan rasuli, karena Yohanes adalah nelayan Galilea. Tapi harus pula diakui, bahwa pembahasan-pembahasan rabiniah ditemukan dalam ajaran Yesus, bukan dalam catatan penulis.
Lagipula, nampaknya penulis Injil Yohanes mengambil sikap bermusuhan terhadap orang Yahudi, seolah-olah mereka adalah dari bangsa yang lain daripadanya, suatu hal yang agak mengejutkan bila sekiranya rasul Yohanes adalah penulisnya. Tapi ini dapat merupakan bukti tentang perasaan dalam diri seorang Kristen Yahudi tentang permusuhan bangsanya yang pahit terhadap Yesus.
Teori-teori lain tentang penulis ini umumnya berusaha mempertahankan suatu hubungan antara rasul Yohanes dengan Injil ini dengan memandangnya selaku saksi, sementara menduga adanya seorang penulis lain. Teori yang dikemukakan secara amat meluas ialah bahwa seorang Yohanes lain, dikenal dengan nama Penetua Yohanes, adalah penulis itu. bila ada dua orang Yohanes yang berhubungan sedemikian dekatnya dalam menghasilkan Injil ini, bukanlah tidak mungkin bahwa dapat timbul kekacauan antara mereka dalam tradisi purba. Tapi bahwa pernah ada seorang Penetua Yohanes tergantung pada ucapan Papias yang agak kabur, dan Papias tidak menyinggung sama sekali pada suatu Injil yang dituliskannya.
Beberapa ahli menyangkal semua hubungan rasul Yohanes dengan Injil ini, dan mengatakan bahwa nama Yohanes dikaitkan dengannya untuk memperoleh wibawa rasuli.
Dalam menghadapi semua pendapat yang beraneka ragam itu, orang Kristen memang tidak boleh dogmatis, namun pandangan bahwa rasul Yohanes menulis Injil Yohanes paling cocok dengan bukti-bukti dalam maupun luar.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa menurut Injil Yohanes sendiri, penulis Injil Yohanes ini adalah ‘murid yang dikasihi oleh Yesus’. Bukti internal ini dapat diperoleh dalam Yoh 21:20,24; Yoh 13:23-25 18:15-16 19:26-27 20:3,4,8 21:7. Kemudian dari istilah yang dipakai yaitu ‘murid yang dikasihi oleh Yesus’ jelas menunjuk Yohanes. Ia adalah salah satu dari tiga murid yang terdekat dengan Yesus, yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes. Ketiga murid ini adalah murid-murid yang terdekat dengan Yesus. Hal ini dapat diamati dari beberapa peristiwa dimana Yesus hanya membawa ketiga murid ini (bnd. Mat 17:1 Luk 8:51 Mat 26:37). Kemudian dalam Yoh 20:3,4,8 & 21:20,24 jelas Nampak terlihat bahwa ‘murid yang dikasihi Yesus’ itu dibedakan dari Petrus. Oleh karena itu maka jelas bahwa penulis Injil Yohanes bukan Petrus, dan bukan juga Yakobus karena Yakobus telah mati mendahuluinya (bnd. Kis 12:2) sehingga tidak mungkin menjadi penulis Injil Yohanes, yang ditulis pada kira-kira akhir abad pertama. Karena itu, satu-satunya kemungkinan yang tersisa: Yohaneslah penulis dari Injil Yohanes ini. Yohanes adalah seorang penjala ikan (bdn. Mat 4:21-22), dan seorang yang tidak terpelajar (bnd. Kis 4:13), tetapi Yohanes dipakai oleh Allah untuk menuliskan sebagian dari Kitab Suci yaitu Injil Yohanes, dan tiga surat Yohanes, dan kitab Wahyu. Jadi, penulis Injil adalah salah seorang di antara empat penulis Injil yang paling dekat dengan Yesus Kristus.[9]
Waktu dan Tempat Penulisan
Di dalam sumber Wikipedia menjelaskan bahwa waktu penulisan Injil Yohanes diperkirakan antara tahun 40 – 140 Masehi.[10] Seorang tokoh gereja mula-mula yaitu Irenaeus menyatakan bahwa Injil Yohanes di tulis di daerah Asia Kecil, yakni di kota Efesus. Pada saat-saat itu, terjadi pertumbuhan gereja kea rah kedewasaan. Oleh karena itu maka dibutuhkan pengajaran. Dengan kata lain gereja yang berkembang membutuhkan akan ajaran tentang masalah iman.
Jadi jelas bahwa tahun penulisannya diperkirakan tahun 40 – 140 M. Sedangkan tempat penulisan Injil Yohanes adalah di Efesus. Apakah informasi tentang tempat penulisan menolong untuk memahami Injil Yohanes, khususnya Yohanes 8:30-37?. Jelas bahwa dengan mengetahui tempat maka maksud penulisan Injil dapat diketahui secara baik. Hal ini disebabkan karena pokok yang dibicarakan selalu dalam konteks hidup. Maka apa yang sedang terjadi pada waktu itu berkenaan dengan apa yang disampaikan oleh penulis Injil Yohanes dapat diketahui dengan memahami gambaran tentang kota Efesus.
Dalam Wikipedia dipaparkan bahwa kata efesus dari kata Ephesos, suatu istilah Yunani Kuno dari Ἔφεσος, Ephesos; bahasa Turki Efes. Efesus adalah kota Yunani Kuno, dalam perkembangannya pada waktu itu, kota Efesus kemudian menjadi bagian dari kota-kota yang dikuasai Roma. Kota Efesus adalah salah satu kota terbesar di Romawi setelah kota Roma. Jadi, pada waktu penulisan Injil Yohanes, Efesus merupakan kota terbesar kedua di dunia. Ini artinya Efesus adalah kota terpenting, kota pusat perdagangan. Efesus dalam kitab Wahyu digambarkan bahwa termasuk tujuh jemaat di Asia Kecil. Di kota Efesus diadakan pertemuan-pertemuan penting seperti pertemuan besar orang Kristen yang biasa disebut konsili. Salah satu konsili gereja yaitu dilaksanakan di kota Efesus [11]
Selain itu, Efesus dikenal karena kota para dewa, terdapat kuil dewi Artemis yang selesai dibangun tahun 550 Seb.M. Dan Efesus menjadi pusat kota perdagangan. Akan teapi kemudian kota Efesus sebagiannya hancur karena gempa bumi yang terjadi pada tahun 614 M.[12]
Memahami kebenaran informasi di atas maka sangat menakjubkan yaitu di kota yang terkenal dengan kuil Artemis justru dipakai menjadi tempat Yohanes menulis Injil Yesus Kristus. Khususnya bagaimana Yohanes menggambarkan tentang suatu “kebenaran” yang memerdekakan hidup manusia. Kebenaran itu memerdekakan manusia dari perhambaan dosa. Kebenaran inilah yang dibicarakan dalam Yohanes 8:30-37.
Tujuan Penulisan
Injil Yohanes ditulis dengan tujuan yaitu untuk melawan ajaran kelompok Gnostik. Penulis Injil Yohanes mempertahankan keyakinan sebagaimana yang dipaparkan dalam Yohanes 20:31, yakni supaya para pendengar yaitu para murid Yesus Kristus percaya bahwa Yesus adalam mesia, anak Allah. Dan oleh iman kepada Yesus Kristus memperoleh kehidupan kekal dalam Yesus Kristus. Penulis menekankan dua hal yang dipahami dalam istilah Yunan yang dipakai yaitu: Yohanes memakai memakai satu dari dua bentuk waktu untuk kata Yunani yang diterjemahkan "percaya", yaitu aorist subjunctive ("sehingga kamu dapat mulai mempercayai") dan present subjunctive ("sehingga kamu dapat terus percaya"). Bagian pertama menegaskan bahwa tulisan Yohanes bertujuan untuk meyakinkan orang yang tidak percaya untuk percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan diselamatkan. Sedangkan yang kedua adalah Yohanes menulis untuk menguatkan dasar iman supaya orang percaya dapat terus percaya kendatipun ada ajaran palsu, dan dengan demikian masuk dalam persekutuan penuh dengan Bapa dan Anak (bnd. Yoh. 17:3). Injil Yohanes juga ditujukan bagi mereka yang memiliki minat terhadap filsafat. Beberapa pokok yang terkandung dalam isi Injil Yohanes juga sengaja ditulis untuk melengkapi berita tentang kehidupan dan karya Yesus.[13]
Bagian terakhir ini perlu ditegaskan untuk menghindari kesalahan pemahaman karena dalam bagian yang lain, Paulus menyatakan bahwa berhati-hati terhadap filsafat yang kosong. Hal ini tidak berrati filsafat tidak berguna karena intinya filsafat adalah proses berpikir mendalam terhadap relaitas dan menghasilkan apa yang disebut dengan kebenaran pengetahuan yang disebut Ilmu pengetahuan. Istilah kebenaran yang memerdekakan Nampak mengarah pada filsafat. Akan tetapi bagian ini tidak dibicarakan disini karena akan disampaikan dalam bab analisis teologis tentang “kebenaran yang memerdekakan”. Cukuplah dikatakan disini bahwa bagian ini memberi pemahaman bahwa bagian-bagian tertentu dalam Injil Yohanes bersifat filosofis.
Ciri-Ciri Injil Yohanes
Injil Yohanes dianggap oleh banyak orang sebagai kitab yang paling dalam dan paling rohani di dalam Alkitab. Di dalam Injil Yohanes Kristus terdapat informasi tentang pernyataan diri Yesus Kristus, Allah yang dianggap lebih lengkap dari pada kitab-kitab Injil Sinoptis seperti Injil Sinoptis adalah Matius, Markus dan Lukas, yang struktur dan segi pandangnya ada kesamaan. Ciri-ciri Injil Yohanes diringkas sebagai berikut:
Pernyataan pribadi dan sifat-sifatNya.
Bacaan Alkitab : Joh 1:1 10:30-38 12:45 14:7-9 16:15
Pernyataan KeilahianNya
Pernyataan pekerjaan Roh Kudus.
Pernyataan kuasa/wewenang keilahianNya. Contohnya dalam pasal lima Ia menyatakan diriNya bahwa Ia diutus oleh Allah sebanyak emam kali berturut-turut dalam ayat-ayat di situ
Joh 5:23,24,30,36,37,38
Pernyataan Allah sebagai Bapa. Kristus mengatakan Allah sebagai "Bapa" lebih dari seratus kali
Allah adalah Bapa Rohani
Joh 4:23
Ia adakah Bapa yang memberi hidup
Joh 5:21
Ajaran berasal dari Bapa
Joh 7:16
Bapa lebih besar dari segala sesuatu
Joh 10:29
pekerjaan adalah milik Bapa
Joh 14:10
Allah adalah Bapa yang tinggal beserta/hadir tetap secara batiniah
Joh 14:23
Bapa yang Kekal
Joh 17:5
Bapa yang Kudus
Joh 17:11
Bapa yang Benar
Joh 17:25 dll[14]
Selanjutnya dikatakan bahwa sifat khas yang paling penting dari Injil Yohanes adalah fakta bahwa lebih dari satu setengah bagian Injil Yohanes menggambarkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Kristus, dan perkataanNya selama hari-hari terakhir Yesus Kristus. Dapat juga dikatakan bahwa ceramah dan percakapan yang hanya ditemukan dalam Injil Yohanes. Percapan Yesus dengan Nikodemus (Yoh. 3: 1-26), percakapan dengan seorang perempuan Samaria (Yoh. 4:1-26), ceramah kepada orang-orang Yahudi pada hari raya Pondok Daun (Yoh. 7:14-39, 8:3-58), perumpamaan tentang gembala yang baik (Yoh. 10:1), Satu rangkaian pengajaran pribadi kepada murid-murid, kata-kata penghiburan dan doa syafaatNya,(Yoh.14-17) Pertemuan Yesus dengan murid-murid di pantai Galilea,(Yoh. 21).[15]
Berdasarkan penjelasan di atas, ciri Injil Yohanes dapat diringkas sebagai berikut:
Keilahian Yesus sebagai "Anak Allah" ditekankan. Dari prolog Yohanes dengan pernyataan yang luar biasa, "kita telah melihat kemuliaan-Nya" (Yoh. 1:14) sampai akhirnya dengan pengakuan Tomas, "Ya Tuhanku dan Allahku" (Yoh. 20:28), Yesus adalah Putra Allah yang menjadi manusia.
Kata "percaya" yang dipakai sebanyak 98 kali adalah sama dengan menerima Kristus (Yoh. 1:12) dan meliputi tanggapan hati (bukan saja mental) yang menghasilkan suatu komitmen dari seluruh kehidupan kepada Dia.
"Hidup kekal" adalah konsep kunci dari Yohanes. Konsep ini bukan hanya menunjuk kepada suatu keberadaan tanpa akhir, tetapi lebih mengarah kepada perubahan mutu kehidupan yang datang melalui persatuan dengan Kristus. Hal ini mengakibatkan baik kebebasan dari perbudakan dosa dan setan-setan maupun pengenalan dan persekutuan yang makin bertumbuh dengan Allah.
Pertemuan pribadi dengan Yesus diutamakan dalam Injil ini (tidak kurang dari 27).
Pelayanan Roh Kudus memungkinkan orang percaya mengalami kehidupan dan kuasa Yesus secara terus-menerus setelah kematian dan kebangkitan Kristus.
Injil ini menekankan "kebenaran" -- Yesus adalah kebenaran, Roh Kudus adalah Roh Kebenaran, dan Firman Allah adalah kebenaran. Kebenaran membebaskan orang (Yoh. 8:32), menyucikan mereka (Yoh. 15:3) serta berlawanan dengan kegiatan dan sifat Iblis (Yoh. 8:44-47, 51).
Angka tujuh sangat menonjol: tujuh tanda, tujuh ajaran, dan tujuh pernyataan "Aku adalah" menegaskan siapa Yesus itu (bd. menonjolnya angka tujuh di dalam kitab Wahyu oleh penulis yang sama).
Kata-kata dan konsep lainnya yang utama dari Yohanes adalah: "firman", "terang", "daging", "kasih", "kesaksian", "tahu", "kegelapan", dan "dunia". [16]
E. Maksud Penulisan
Maksud Injil ini ditulis adalah untuk melawan Gnostikisme dengan mempertahankan suatu keyakinan (apologetic).[17] Yohanes menyatakan tujuan untuk tulisannya dalam Yohanes 20: 31, yaitu "supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya." Naskah kuno Yunani dari Yohanes memakai satu dari dua bentuk waktu untuk kata Yunani yang diterjemahkan "percaya", yaitu aorist subjunctive ("sehingga kamu dapat mulai mempercayai") dan present subjunctive ("sehingga kamu dapat terus percaya"). [18]
Pernyataan di atas menegaskan kata percaya. Dalam hal ini tujuan penulis Injil Yohanes adalah supaya setiap orang pembaca percaya. Dengan demikian Yohanes bermaksud menulis untuk meyakinkan orang yang tidak percaya untuk percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan diselamatkan. Kalau yang kedua, Yohanes menulis untuk menguatkan dasar iman supaya orang percaya dapat terus percaya kendatipun ada ajaran palsu, dan dengan demikian masuk dalam persekutuan penuh dengan Bapa dan Anak (bandingkan 17:3). Walaupun kedua tujuan ini didukung dalam kitab Yohanes, isi dari Injil ini pada umumnya mendukung yang kedua sebagai tujuan utama. Injil ini juga ditujukan bagi mereka yang memiliki minat terhadap filsafat.[19] Kisah-kisah yang terkandung dalam Injil Yohanes juga sengaja ditulis untuk melengkapi berita tentang kehidupan dan pekerjaan Yesus yang sudah ada pada masa itu dan yang sudah dinyatakan secara tertulis di dalam Injil-injil Sinoptis.[20]
Pernyataan di atas memang bukanlah pengakuan final dari para ahli karena ada pakar yang meragukan adanya ketergantungan Injil ini dengan Injil Sinoptik, Walaupun demikian kebanyakan pakar menerima bahwa Injil ini memang mempunyai ketergantungan dengan Injil-injil yang lain, paling tidak, penulisnya mengetahui isi ketiga Injil yang lain.[21]
[1] Ola Tulluan, Introduksi Perjanjian Baru (Malang : Departemen Literatur YPPI, 1999), hlm. 73
[2] Garry M. Burge, John (NIVAC; Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2000), 590-591.
[3]Ben Witherington, Apa yang telah Mereka Lakukan pada Yesus? Bantahan terhadap Teori-teori Aneh dan Sejarah ‘Ngawur’ tentang Yesus, terj. James Pantou (Jakarta: Gramedia, 2006), 189-224. Dan Donald Guthrie, Pengantar Perjanjian Baru Volume 1, terj. Hendry Ongkowidjojo (Surabaya: Momentum, 2010), 222-226; juga D.A. Carson, Douglas J. Moo, and Leon Morris, An Introduction to the New Testament (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 1992), 144-151.
[4] J. Ramsey Michaels, The Gospel of John (NICNT; Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2010), 24-25.
[5] Leo G. Cox, “John Witness to the Historical Jesus,” Bulletin of the Evangelical Theological Society 9.4 (1966): 173-178; Craig L. Blomberg, Jesus and the Gospels (Leicester: Apolos, 2002), 157-159.
[6] David Iman Santoso, Theologi Yohanes Intisari dan Aplikasinya (Malang : Literatur SAAT, 2007), hlm. 13
[7] Ola Tulluan, Op.Cit., hlm. 74
[8] http://www.sarapanpagi.org/kitab-kitab-yang-ditulis-rasul-yohanes-vt2281.html
[9] Ola Tulluan, Introduksi Perjanjian Baru (Malang : Departemen Literatur YPPI, 1999), hlm. 73
[10] http://id.wikipedia.org/wiki/Injil_Yohanes#cite_note-Tenney-2
[11] http://id.wikipedia.org/wiki/Efesus
[12]http://id.wikipedia.org/wiki/Efesus
[13] http://id.wikipedia.org/wiki/Injil_Yohanes
[14] http://www.sabda.org/sejarah/artikel/garis_besar_alkitab_yohanes.htm diakses, 25/3 2014
[15] http://www.sabda.org/sejarah/artikel/garis_besar_alkitab_yohanes.htm diakses, 25/3 2014
[16] http://sejarah.co/Pengantar_Full_Life/Yohanes diakses, 25/3 2014
[17] Merrill C. Tenney. Survei Perjanjian Baru. Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1995), 231-245
[18] http://id.wikipedia.org/wiki/Injil_Yohanes
[19] Ibid
[20] Ibid
[21]The New Oxford Annotated Bible. 4th ed.( New York: Oxford Press, 2010) dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Injil_Yohanes
A. Penulis
Salah satu pokok penting untuk memahami isi suatu tulisan adalah mengetahui siapa penulisnya. Dalam hal ini untuk memahami isi Injil Yohanes, baik secara menyeluruh maupun perikop-perikop tertentu maka perlu mengetahui siapa penulis Injil Yohanes. Dalam konteks pemahaman seperti itulah maka perlu membahas penulis Injil Yohanes. Menurut Ola Tulluan, Injil Yohanes ditulis oleh seorang Yahudi yang mengenal beberapa hal, yaitu:
(1) Mengenal Palestina secara dekat.
(2) Mengetahui hubungan antara orang Yahudi dan orang Samaria yang tidak begitu ramah, tidak bergaul (bnd. Yoh. 4:2)
(3) Mengetahui percekcokan antara orang Yahudi dan Samaria tentang tempat ibadah (bnd. Yoh. 4:2)
(4) Mengetahui hari raya Yahudi dari segi waktu dan artinya (bnd. Yoh. 7:2, 11:55)
(5) Mengenal geografi Galilea (bnd. Yoh. 1:44, 2:1), Samaria (bnd. Yoh. 4:5), Yerusalem dan sekitarnya (bnd. Yoh. 11:8).[1]
Selain mengenal beberapa hal di atas, penulis Injil Yohanes memperkenalkan dirinya bahwa ia adalah saksi mata dari peristiwa-peristiwa yang dilaporkannya (bnd. Yoh. 1:14, 19:35). Hal ini hendak menegaskan bahwa penulis adalah saksi langsung atau saksi mata yang mengerti akan rahasia Injil Yesus Kristus.
Pada ayat-ayat selanjutnya khususnya dalam Yohanes 21:24, dinyatakan bahwa Injil ini ditulis oleh “kita” dalam kata Yunani dipakai oi;damen, orang pertama jamak dari kata oi;da, berarti “kita/kami tahu”[2] mengenai kesaksian murid yang dikasihi,[3] yaitu Yohanes anak Zebedeus tentang Yesus dan “kita” menegaskan bahwa kesaksian murid yang dikasihi itu benar. Tampaknya, Injil ini menyatakan hubungan yang akrab antara Yesus dan Yohanes yang menegaskan bahwa kesaksiannya mengenai Yesus (bnd. 13:23; 21:20).
Dalam Yohanes 8:40, penulis injil ini menerangkan bahwa Yesus menyebut diri-Nya “seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu” (Yoh. 8:40). Oleh karena kesaksian Yesus itu benar, maka semestinya Pilatus tidak lagi mengajukan pertanyaan “apakah kebenaran itu?” (18:38). Sebenarnya Yesus telah mempertegas “Akulah jalan, dan kebenaran, dan hidup” (14:7) dan bahwa “firman-Mu adalah kebenaran” (Yoh. 17:17). Selanjutnya disebutkan bahwa Roh Kudus yang akan “memimpin kamu ke dalam segala kebenaran” (16:13). Jadi, sebenarnya keabsahan kebenaran pengajaran dan karya Yesus dapat diterima dan bukan untuk diragukan.[4] Akan tetapi pada waktu itu, tidak semua orang pada waktu itu menerima bahwa Yesus adalah kebenaran dan bahwa ajaran-Nya adalah kebenaran.[5]
Merujuk pada informasi dalam Injil Yohanes, ada kesulitasn untuk memastikan siapa penulis Injil Yohanes tidak menyebutkan namanya. Jadi ada ada beberapa kemungkinan bahwa penulis Injil ini adalah Yohanes anak Zebedeus. Dalam Injil Yohanes 1:35-51 dikatakan bahwa bahwa ada dua murid yang mengikuti Yesus (bnd. Yoh.1:37), nama murid yang pertama adalah Andreas (bnd. Yoh. 1:40), nama yang kedua tidak disebut.Sementara nama muid-murid yang lain disebut. Dengan demikian dipastikan bahwa hanya nama Yohanes yang tidak disebut. Gaya penulisan yang demikian itu dipastikan biasanya dilakukan oleh penulis yang biasanya menyebut nama orang lain tetapi namanya sendiri tidak disebutkan. Sehingga dipastikan bahwa yang menulis Injil Yohanes adalah Yohanes sendiri, dialah yang dimaksudkan dalam Yoh. 1:40.
Kepastian di atas searah dengan penegasan David Iman Santoso yang menyatakan bahwa rasul Yohanes adalah anak Zebedeus, seorang nelayan dari Galilea (bnd. Mark. 1:20). Santoso melanjutkan komentarnya dengan menyatakan bahwa keluarga Zebedeus mempunyai relasi yang baik di kota Yerusalem, sebab Yohanes dikenal oleh imam besar (bnd. Yoh. 18;16), diperkirakan keluarga Zebedeus memiliki rumah di Yerusalem sehingga ketika Yesus menyerahkan pemeliharaan ibu-Nya kepada Yohanes yang memiliki rumah ayahnya di Yerusalem.[6]
Pernyataan di atas menegaskan bahwa penulis Injil Yohanes adalah Yohanes anak Zebedeus. Kepastian ini sesuai dengan pengakuan gereja mula-mula yang tidak ragu-ragu menerima Injil Yohanes sebagai Injil yang ditulis oleh Yohanes. Seorang uskup yaitu Ireneus yang hidup antara tahun 142 – 202 Masehi menyatakan bahwa: “Yohanes murid Tuhan Yesus, dan yang bersandar dekat kepada-Nya, menulis Injil ke-4 pada waktu dia tinggal di Efesus. Klemens dari Alxandria juga membenarkan bahwa Yohaneslah yang menulis Injil Yohanes.[7]
Ada tradisi yang kuat, didukung oleh bukti dari sumber-sumber purba, yang menyatakan bahwa penulis Injil Yohanes adalah rasul Yohanes. Dalam Injil ini sendiri tidak ada hunjukan tentang siapa penulisnya. Karena itu perlu dipertimbangkan dengan seksama bukti luar itu untuk menentukan apakah ia dapat dipercayai. Sekurang-kurangnya pada masa Irenaeus (kira-kira 150 Masehi) orang mengakui bahwa Injil ini ditulis oleh rasul Yohanes, dan kesaksian Irenaeus ini diperkuat oleh kemungkinan bahwa ia berkenalan dengan tradisi otentik melalui perkenalannya yang terdahulu dengan Polykarpus. Polykarpus tidak menghunjuk kepada atau mengutip dari Injil Yohanes dalam suratnya kepada orang Filipi, tapi ini tidak berarti bahwa dia tidak kenal Injil ini. [8]
Satu-satunya penolakan terhadap kepenulisan oleh rasul Yohanes datang dari suatu kelompok yang dikenal dengan nama Alogoi, yang rupa-rupanya adalah suatu kelompok pecahan kecil di Roma. Pandangan mereka ditolak oleh Hyppolytus yang menulis pembelaan atas Injil Yohanes. Tidaklah mudah memastikan sejarah Yohanes sebelum Irenaeus. Tapi tentunya Injil Yohanes telah dianggap selaku kitab yang berwibawa untuk waktu yang cukup lama jika ditempatkan secara tak tertampkk pada taraf yang sama dengan ketiga injil lainnya selaku bagian dari Injil yang rangkap empat.
Beberapa pertimbangan yang bersumberkan isi Injil Yohanes memperkuat, walaupun tidak memastikan kebenaran tradisi, sebagaimana misalnya: Yohanes 19:35, "Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebesaran, supaya kamu juga percaya." Yohanes 21:24, "Dialah murid, yang memberi kesaksian tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu, bahwa kesaksiannya itu benar."
Walaupun seluruh hunjukan ini dipahami secara berlainan oleh sementara ahli-ahli, namun adalah masuk akal untuk melihat ayat-ayat ini selaku tuntutan penulis sendiri bahwa ia adalah saksi mata. Lagipula, Yohanes, anak Zebedeus, tidak disinggung dalam Injil ini, sedangkan Yohanes Pembaptis hanya disebut Yohanes, tanpa penjelasan selanjutnya. Hal ini pastilah lebih dapat dipahami jika penulis adalah Yohanes anak Zebedeus. Suatu pertimbangan selanjutnya ialah sebutan tanpa menyebut nama tentang "murid yang dikasihi Yesus", yang mungkin merupakan hunjukan kepada Yohanes, rasul itu.
Penulis nampaknya memiliki pengetahuan terinci tentang Palestina dan adat-istiadat Yahudi. Adalah masuk akal bila dia Yahudi Palestina, walaupun bukti ini tidak menuntut hal ini. Ia dapat memperoleh informasinya dari sumber lain.
Banyak rincian yang sambil lalu turut menyarankan bahwa pengamatan saksi mata berada di belakang Injil Yohanes, umpamanya jumlah tempayan air di Kana dan jumlahikan yang ditangkap di Danau Galilea ketika Yesus menampakkan diri kepada murid-murid sesudah kebangkitan-Nya. Rincian-rincian seperti ini tidaklah hakiki dalam cerita, tetapi menambah hidupnya cerita.
Sekalipun demikian, ciri-ciri Helenistis dari Injil Yohanes ini dikatakan oleh sementara orang justru melawan ketelitian tradisi purba, karena rasul Yohanes bukanlah Yahudi Helenistis. Lagipula, kesejajaran-kesejajaran dengan risalah-risalah filosofis non-Kristen yang dikenal dengan nama 'Hermetica' dikemukakan untuk mendukung pendapat ini. Melawannya,memang benar bahwa ada kesejajaran-kesejajaran dalam peristilahan Yohanes dengan Philo dari Alexandria dan Hermes, tapi ini tidaklah menunjukkan bahwa penulis haruslah seorang Helenis.
Pengetahuan yang baik dari penulis tentang metode-metode pembahasan orang rabi adalah satu alasan lain mengapa beberapa ahli menolak kepenulisan rasuli, karena Yohanes adalah nelayan Galilea. Tapi harus pula diakui, bahwa pembahasan-pembahasan rabiniah ditemukan dalam ajaran Yesus, bukan dalam catatan penulis.
Lagipula, nampaknya penulis Injil Yohanes mengambil sikap bermusuhan terhadap orang Yahudi, seolah-olah mereka adalah dari bangsa yang lain daripadanya, suatu hal yang agak mengejutkan bila sekiranya rasul Yohanes adalah penulisnya. Tapi ini dapat merupakan bukti tentang perasaan dalam diri seorang Kristen Yahudi tentang permusuhan bangsanya yang pahit terhadap Yesus.
Teori-teori lain tentang penulis ini umumnya berusaha mempertahankan suatu hubungan antara rasul Yohanes dengan Injil ini dengan memandangnya selaku saksi, sementara menduga adanya seorang penulis lain. Teori yang dikemukakan secara amat meluas ialah bahwa seorang Yohanes lain, dikenal dengan nama Penetua Yohanes, adalah penulis itu. bila ada dua orang Yohanes yang berhubungan sedemikian dekatnya dalam menghasilkan Injil ini, bukanlah tidak mungkin bahwa dapat timbul kekacauan antara mereka dalam tradisi purba. Tapi bahwa pernah ada seorang Penetua Yohanes tergantung pada ucapan Papias yang agak kabur, dan Papias tidak menyinggung sama sekali pada suatu Injil yang dituliskannya.
Beberapa ahli menyangkal semua hubungan rasul Yohanes dengan Injil ini, dan mengatakan bahwa nama Yohanes dikaitkan dengannya untuk memperoleh wibawa rasuli.
Dalam menghadapi semua pendapat yang beraneka ragam itu, orang Kristen memang tidak boleh dogmatis, namun pandangan bahwa rasul Yohanes menulis Injil Yohanes paling cocok dengan bukti-bukti dalam maupun luar.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa menurut Injil Yohanes sendiri, penulis Injil Yohanes ini adalah ‘murid yang dikasihi oleh Yesus’. Bukti internal ini dapat diperoleh dalam Yoh 21:20,24; Yoh 13:23-25 18:15-16 19:26-27 20:3,4,8 21:7. Kemudian dari istilah yang dipakai yaitu ‘murid yang dikasihi oleh Yesus’ jelas menunjuk Yohanes. Ia adalah salah satu dari tiga murid yang terdekat dengan Yesus, yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes. Ketiga murid ini adalah murid-murid yang terdekat dengan Yesus. Hal ini dapat diamati dari beberapa peristiwa dimana Yesus hanya membawa ketiga murid ini (bnd. Mat 17:1 Luk 8:51 Mat 26:37). Kemudian dalam Yoh 20:3,4,8 & 21:20,24 jelas Nampak terlihat bahwa ‘murid yang dikasihi Yesus’ itu dibedakan dari Petrus. Oleh karena itu maka jelas bahwa penulis Injil Yohanes bukan Petrus, dan bukan juga Yakobus karena Yakobus telah mati mendahuluinya (bnd. Kis 12:2) sehingga tidak mungkin menjadi penulis Injil Yohanes, yang ditulis pada kira-kira akhir abad pertama. Karena itu, satu-satunya kemungkinan yang tersisa: Yohaneslah penulis dari Injil Yohanes ini. Yohanes adalah seorang penjala ikan (bdn. Mat 4:21-22), dan seorang yang tidak terpelajar (bnd. Kis 4:13), tetapi Yohanes dipakai oleh Allah untuk menuliskan sebagian dari Kitab Suci yaitu Injil Yohanes, dan tiga surat Yohanes, dan kitab Wahyu. Jadi, penulis Injil adalah salah seorang di antara empat penulis Injil yang paling dekat dengan Yesus Kristus.[9]
Waktu dan Tempat Penulisan
Di dalam sumber Wikipedia menjelaskan bahwa waktu penulisan Injil Yohanes diperkirakan antara tahun 40 – 140 Masehi.[10] Seorang tokoh gereja mula-mula yaitu Irenaeus menyatakan bahwa Injil Yohanes di tulis di daerah Asia Kecil, yakni di kota Efesus. Pada saat-saat itu, terjadi pertumbuhan gereja kea rah kedewasaan. Oleh karena itu maka dibutuhkan pengajaran. Dengan kata lain gereja yang berkembang membutuhkan akan ajaran tentang masalah iman.
Jadi jelas bahwa tahun penulisannya diperkirakan tahun 40 – 140 M. Sedangkan tempat penulisan Injil Yohanes adalah di Efesus. Apakah informasi tentang tempat penulisan menolong untuk memahami Injil Yohanes, khususnya Yohanes 8:30-37?. Jelas bahwa dengan mengetahui tempat maka maksud penulisan Injil dapat diketahui secara baik. Hal ini disebabkan karena pokok yang dibicarakan selalu dalam konteks hidup. Maka apa yang sedang terjadi pada waktu itu berkenaan dengan apa yang disampaikan oleh penulis Injil Yohanes dapat diketahui dengan memahami gambaran tentang kota Efesus.
Dalam Wikipedia dipaparkan bahwa kata efesus dari kata Ephesos, suatu istilah Yunani Kuno dari Ἔφεσος, Ephesos; bahasa Turki Efes. Efesus adalah kota Yunani Kuno, dalam perkembangannya pada waktu itu, kota Efesus kemudian menjadi bagian dari kota-kota yang dikuasai Roma. Kota Efesus adalah salah satu kota terbesar di Romawi setelah kota Roma. Jadi, pada waktu penulisan Injil Yohanes, Efesus merupakan kota terbesar kedua di dunia. Ini artinya Efesus adalah kota terpenting, kota pusat perdagangan. Efesus dalam kitab Wahyu digambarkan bahwa termasuk tujuh jemaat di Asia Kecil. Di kota Efesus diadakan pertemuan-pertemuan penting seperti pertemuan besar orang Kristen yang biasa disebut konsili. Salah satu konsili gereja yaitu dilaksanakan di kota Efesus [11]
Selain itu, Efesus dikenal karena kota para dewa, terdapat kuil dewi Artemis yang selesai dibangun tahun 550 Seb.M. Dan Efesus menjadi pusat kota perdagangan. Akan teapi kemudian kota Efesus sebagiannya hancur karena gempa bumi yang terjadi pada tahun 614 M.[12]
Memahami kebenaran informasi di atas maka sangat menakjubkan yaitu di kota yang terkenal dengan kuil Artemis justru dipakai menjadi tempat Yohanes menulis Injil Yesus Kristus. Khususnya bagaimana Yohanes menggambarkan tentang suatu “kebenaran” yang memerdekakan hidup manusia. Kebenaran itu memerdekakan manusia dari perhambaan dosa. Kebenaran inilah yang dibicarakan dalam Yohanes 8:30-37.
Tujuan Penulisan
Injil Yohanes ditulis dengan tujuan yaitu untuk melawan ajaran kelompok Gnostik. Penulis Injil Yohanes mempertahankan keyakinan sebagaimana yang dipaparkan dalam Yohanes 20:31, yakni supaya para pendengar yaitu para murid Yesus Kristus percaya bahwa Yesus adalam mesia, anak Allah. Dan oleh iman kepada Yesus Kristus memperoleh kehidupan kekal dalam Yesus Kristus. Penulis menekankan dua hal yang dipahami dalam istilah Yunan yang dipakai yaitu: Yohanes memakai memakai satu dari dua bentuk waktu untuk kata Yunani yang diterjemahkan "percaya", yaitu aorist subjunctive ("sehingga kamu dapat mulai mempercayai") dan present subjunctive ("sehingga kamu dapat terus percaya"). Bagian pertama menegaskan bahwa tulisan Yohanes bertujuan untuk meyakinkan orang yang tidak percaya untuk percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan diselamatkan. Sedangkan yang kedua adalah Yohanes menulis untuk menguatkan dasar iman supaya orang percaya dapat terus percaya kendatipun ada ajaran palsu, dan dengan demikian masuk dalam persekutuan penuh dengan Bapa dan Anak (bnd. Yoh. 17:3). Injil Yohanes juga ditujukan bagi mereka yang memiliki minat terhadap filsafat. Beberapa pokok yang terkandung dalam isi Injil Yohanes juga sengaja ditulis untuk melengkapi berita tentang kehidupan dan karya Yesus.[13]
Bagian terakhir ini perlu ditegaskan untuk menghindari kesalahan pemahaman karena dalam bagian yang lain, Paulus menyatakan bahwa berhati-hati terhadap filsafat yang kosong. Hal ini tidak berrati filsafat tidak berguna karena intinya filsafat adalah proses berpikir mendalam terhadap relaitas dan menghasilkan apa yang disebut dengan kebenaran pengetahuan yang disebut Ilmu pengetahuan. Istilah kebenaran yang memerdekakan Nampak mengarah pada filsafat. Akan tetapi bagian ini tidak dibicarakan disini karena akan disampaikan dalam bab analisis teologis tentang “kebenaran yang memerdekakan”. Cukuplah dikatakan disini bahwa bagian ini memberi pemahaman bahwa bagian-bagian tertentu dalam Injil Yohanes bersifat filosofis.
Ciri-Ciri Injil Yohanes
Injil Yohanes dianggap oleh banyak orang sebagai kitab yang paling dalam dan paling rohani di dalam Alkitab. Di dalam Injil Yohanes Kristus terdapat informasi tentang pernyataan diri Yesus Kristus, Allah yang dianggap lebih lengkap dari pada kitab-kitab Injil Sinoptis seperti Injil Sinoptis adalah Matius, Markus dan Lukas, yang struktur dan segi pandangnya ada kesamaan. Ciri-ciri Injil Yohanes diringkas sebagai berikut:
Pernyataan pribadi dan sifat-sifatNya.
Bacaan Alkitab : Joh 1:1 10:30-38 12:45 14:7-9 16:15
Pernyataan KeilahianNya
Pernyataan pekerjaan Roh Kudus.
Pernyataan kuasa/wewenang keilahianNya. Contohnya dalam pasal lima Ia menyatakan diriNya bahwa Ia diutus oleh Allah sebanyak emam kali berturut-turut dalam ayat-ayat di situ
Joh 5:23,24,30,36,37,38
Pernyataan Allah sebagai Bapa. Kristus mengatakan Allah sebagai "Bapa" lebih dari seratus kali
Allah adalah Bapa Rohani
Joh 4:23
Ia adakah Bapa yang memberi hidup
Joh 5:21
Ajaran berasal dari Bapa
Joh 7:16
Bapa lebih besar dari segala sesuatu
Joh 10:29
pekerjaan adalah milik Bapa
Joh 14:10
Allah adalah Bapa yang tinggal beserta/hadir tetap secara batiniah
Joh 14:23
Bapa yang Kekal
Joh 17:5
Bapa yang Kudus
Joh 17:11
Bapa yang Benar
Joh 17:25 dll[14]
Selanjutnya dikatakan bahwa sifat khas yang paling penting dari Injil Yohanes adalah fakta bahwa lebih dari satu setengah bagian Injil Yohanes menggambarkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Kristus, dan perkataanNya selama hari-hari terakhir Yesus Kristus. Dapat juga dikatakan bahwa ceramah dan percakapan yang hanya ditemukan dalam Injil Yohanes. Percapan Yesus dengan Nikodemus (Yoh. 3: 1-26), percakapan dengan seorang perempuan Samaria (Yoh. 4:1-26), ceramah kepada orang-orang Yahudi pada hari raya Pondok Daun (Yoh. 7:14-39, 8:3-58), perumpamaan tentang gembala yang baik (Yoh. 10:1), Satu rangkaian pengajaran pribadi kepada murid-murid, kata-kata penghiburan dan doa syafaatNya,(Yoh.14-17) Pertemuan Yesus dengan murid-murid di pantai Galilea,(Yoh. 21).[15]
Berdasarkan penjelasan di atas, ciri Injil Yohanes dapat diringkas sebagai berikut:
Keilahian Yesus sebagai "Anak Allah" ditekankan. Dari prolog Yohanes dengan pernyataan yang luar biasa, "kita telah melihat kemuliaan-Nya" (Yoh. 1:14) sampai akhirnya dengan pengakuan Tomas, "Ya Tuhanku dan Allahku" (Yoh. 20:28), Yesus adalah Putra Allah yang menjadi manusia.
Kata "percaya" yang dipakai sebanyak 98 kali adalah sama dengan menerima Kristus (Yoh. 1:12) dan meliputi tanggapan hati (bukan saja mental) yang menghasilkan suatu komitmen dari seluruh kehidupan kepada Dia.
"Hidup kekal" adalah konsep kunci dari Yohanes. Konsep ini bukan hanya menunjuk kepada suatu keberadaan tanpa akhir, tetapi lebih mengarah kepada perubahan mutu kehidupan yang datang melalui persatuan dengan Kristus. Hal ini mengakibatkan baik kebebasan dari perbudakan dosa dan setan-setan maupun pengenalan dan persekutuan yang makin bertumbuh dengan Allah.
Pertemuan pribadi dengan Yesus diutamakan dalam Injil ini (tidak kurang dari 27).
Pelayanan Roh Kudus memungkinkan orang percaya mengalami kehidupan dan kuasa Yesus secara terus-menerus setelah kematian dan kebangkitan Kristus.
Injil ini menekankan "kebenaran" -- Yesus adalah kebenaran, Roh Kudus adalah Roh Kebenaran, dan Firman Allah adalah kebenaran. Kebenaran membebaskan orang (Yoh. 8:32), menyucikan mereka (Yoh. 15:3) serta berlawanan dengan kegiatan dan sifat Iblis (Yoh. 8:44-47, 51).
Angka tujuh sangat menonjol: tujuh tanda, tujuh ajaran, dan tujuh pernyataan "Aku adalah" menegaskan siapa Yesus itu (bd. menonjolnya angka tujuh di dalam kitab Wahyu oleh penulis yang sama).
Kata-kata dan konsep lainnya yang utama dari Yohanes adalah: "firman", "terang", "daging", "kasih", "kesaksian", "tahu", "kegelapan", dan "dunia". [16]
E. Maksud Penulisan
Maksud Injil ini ditulis adalah untuk melawan Gnostikisme dengan mempertahankan suatu keyakinan (apologetic).[17] Yohanes menyatakan tujuan untuk tulisannya dalam Yohanes 20: 31, yaitu "supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya." Naskah kuno Yunani dari Yohanes memakai satu dari dua bentuk waktu untuk kata Yunani yang diterjemahkan "percaya", yaitu aorist subjunctive ("sehingga kamu dapat mulai mempercayai") dan present subjunctive ("sehingga kamu dapat terus percaya"). [18]
Pernyataan di atas menegaskan kata percaya. Dalam hal ini tujuan penulis Injil Yohanes adalah supaya setiap orang pembaca percaya. Dengan demikian Yohanes bermaksud menulis untuk meyakinkan orang yang tidak percaya untuk percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan diselamatkan. Kalau yang kedua, Yohanes menulis untuk menguatkan dasar iman supaya orang percaya dapat terus percaya kendatipun ada ajaran palsu, dan dengan demikian masuk dalam persekutuan penuh dengan Bapa dan Anak (bandingkan 17:3). Walaupun kedua tujuan ini didukung dalam kitab Yohanes, isi dari Injil ini pada umumnya mendukung yang kedua sebagai tujuan utama. Injil ini juga ditujukan bagi mereka yang memiliki minat terhadap filsafat.[19] Kisah-kisah yang terkandung dalam Injil Yohanes juga sengaja ditulis untuk melengkapi berita tentang kehidupan dan pekerjaan Yesus yang sudah ada pada masa itu dan yang sudah dinyatakan secara tertulis di dalam Injil-injil Sinoptis.[20]
Pernyataan di atas memang bukanlah pengakuan final dari para ahli karena ada pakar yang meragukan adanya ketergantungan Injil ini dengan Injil Sinoptik, Walaupun demikian kebanyakan pakar menerima bahwa Injil ini memang mempunyai ketergantungan dengan Injil-injil yang lain, paling tidak, penulisnya mengetahui isi ketiga Injil yang lain.[21]
[1] Ola Tulluan, Introduksi Perjanjian Baru (Malang : Departemen Literatur YPPI, 1999), hlm. 73
[2] Garry M. Burge, John (NIVAC; Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2000), 590-591.
[3]Ben Witherington, Apa yang telah Mereka Lakukan pada Yesus? Bantahan terhadap Teori-teori Aneh dan Sejarah ‘Ngawur’ tentang Yesus, terj. James Pantou (Jakarta: Gramedia, 2006), 189-224. Dan Donald Guthrie, Pengantar Perjanjian Baru Volume 1, terj. Hendry Ongkowidjojo (Surabaya: Momentum, 2010), 222-226; juga D.A. Carson, Douglas J. Moo, and Leon Morris, An Introduction to the New Testament (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 1992), 144-151.
[4] J. Ramsey Michaels, The Gospel of John (NICNT; Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2010), 24-25.
[5] Leo G. Cox, “John Witness to the Historical Jesus,” Bulletin of the Evangelical Theological Society 9.4 (1966): 173-178; Craig L. Blomberg, Jesus and the Gospels (Leicester: Apolos, 2002), 157-159.
[6] David Iman Santoso, Theologi Yohanes Intisari dan Aplikasinya (Malang : Literatur SAAT, 2007), hlm. 13
[7] Ola Tulluan, Op.Cit., hlm. 74
[8] http://www.sarapanpagi.org/kitab-kitab-yang-ditulis-rasul-yohanes-vt2281.html
[9] Ola Tulluan, Introduksi Perjanjian Baru (Malang : Departemen Literatur YPPI, 1999), hlm. 73
[10] http://id.wikipedia.org/wiki/Injil_Yohanes#cite_note-Tenney-2
[11] http://id.wikipedia.org/wiki/Efesus
[12]http://id.wikipedia.org/wiki/Efesus
[13] http://id.wikipedia.org/wiki/Injil_Yohanes
[14] http://www.sabda.org/sejarah/artikel/garis_besar_alkitab_yohanes.htm diakses, 25/3 2014
[15] http://www.sabda.org/sejarah/artikel/garis_besar_alkitab_yohanes.htm diakses, 25/3 2014
[16] http://sejarah.co/Pengantar_Full_Life/Yohanes diakses, 25/3 2014
[17] Merrill C. Tenney. Survei Perjanjian Baru. Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1995), 231-245
[18] http://id.wikipedia.org/wiki/Injil_Yohanes
[19] Ibid
[20] Ibid
[21]The New Oxford Annotated Bible. 4th ed.( New York: Oxford Press, 2010) dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Injil_Yohanes

No comments