Breaking News

Kolokium PL

COLICUIUM PERJANJIAN LAMA
Oleh: M.P. Aritonang, M.Th.
Pendahuluan
Studi teologi PL merupakan tugas yang rumit. Tidak ada kesepakatan di antara sarjana-sarjana PL tentang pendekatan mana yang harus dipakai. Dalam pembahasan topik ‘Metodolodi PL’ akan diperkenalkan kepada pembaca tentang berbagai pendekatan yang disepakati. Memang mungkin untuk mempelajari PL di bawah topik Allah, dosa, keselamatan dan seterusnya, tetapi terbatas dan sedikit seperti sebuah teologi sistematik dari PL. Oleh karena melibatkan jangka waktu yang cukup panjang, maka akan lebih bermanfaat apabila mempelajari PL berkaitan dengan catatan pernyataan Allah tentang diri-Nya dalam era yang berbeda. Dalam kerangka yang demikian maka dimungkinkan untuk mempelajari doktrin-doktrin utama dalam setiap masa (seperti yang dilakukan oleh Chester Lehman) yang memang bermanfaat. Namun pendekatan seperti itu tidak dapat menyatukan studi tentang doktrin-doktrin utama menjadi suatu kesatuan. Mungkin juga untuk melihat tema yang sama dalam era yang berbeda sebagaimana dilakukan oleh Kaiser dalam karyanya yang sangat bermanfaat. Pendekatan dengan cara itu penting untuk dapat melihat kesatuan dari teologi PL.
Kelihatannya yang terbaik adalah melihat kesatuan dari PL yang dikembangkan dengan tema ‘kerajaan’. Tema itu ditekankan sepanjangan PL : di Kitab Taurat, Kitab Para Nabi dan di tulisan-tulisan lain. Sepanjang PL, Allah menjalankan kerajaan teokratis-Nya melalui mediator-mediator. Allah memilih pemimpin-pemimpin manusia di mana melalui orang itu Ia menyatakan kehendak-Nya dan menyatakan diri-Nya untuk dikenal. Bentuk akhir dari kerjaan teoktaris Allah adalah kerajaan milenial yang diperintah oleh Yesus Kristus. Kerajaan itulah yang dinantikan oleh PL.
Sebagai suatu pendahuluan, maka teologi PL harus melihat penyataan wahyu Allah; teologi PL harus berdasar pada studi teks PL dan teologi PL harus merupakan studi yang menarik semua yang dipelajari kea rah dan berfokus pada ‘kerajaan’ teokratis.


A. Materi Teologi PL
Kalau kita perhatikan PL, inti yang diperoleh adalah perbuatan Allah. Kalau dari teks pada dasarnya adalah janji Allah kepada umat-Nya. Kata “janji” (ibr. dibber atau dabar), dan dalam PB (epangelia), yang dikenal dalam PL dengan sekumpulan istilah yakni ; janji berkat (Kej. 1: 22, 28). Janji berkat Allah bukan hanya berkembang biak dan menguasai bumi, juga menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Di mana melalui janji berkat itu rencana Allah diwujudkan. Hal-hal yang dijanjikan meliputi negeri (lih. Kej. 12: 25; Ul. 9:28 ; 12:20 ; 19: 8 ; 27:3 ; Yos. 23:5, 10). Janji berkat (Ul. 1:11; 15:6) antara lain; pelipat gandaan milik Allah yaitu Israel (Yos. 23:15) – dinasti dan tahta daud (2 Sam. 7:28; 1 Raj. 2:24; 8: 20, 24-25; 1 Taw. 17: 26 ; 2 Taw. 6: 15-16; Yer. 33:14).
Pada janji-janji tersebut Allah menambahkan “sumpah setia-Nya” sehingga membuat firman-Nya tentang berkat janji untuk masa yang akan datang itu terjamin (Kej. 22; 26: 3; Ul. 8:7; 1 Taw. 16: 15-18; Maz. 105: 9; Yer. 11:5). Formula pertama tentang kesetiaan Allah diberikan dalam (Kej. 17:7-8; 28:21), yaitu “Aku akan menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu”. Allah mengulangi lagi firman-Nya, dan menambahkan bagian ke dua “Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku” (Kel. 6:6). Dengan demikian Israel menjadi :anak Allah, anak-Nya yang sulung” (Kel. 4:22), satu harta kesayangan (Kel. 19: 5-6). Akhir pada bagian ke tiga ditambahkan lagi “Aku diam di tengah-tengahmu” (Kel. 29:45-46).
Ke tiga formula ini; Aku akan menjadi Allahmu – Kamu menjadi umat-Ku – dan Aku hadir di tengah-tengahmu, diulang-ulang (lih. Im. 11:45; 22:33; 25:38; 26:12, 44-45 ; Bil. 15:41; Ul. 4: 20; 29: 12-13 dll). Kemudian muncul dalam (Yer. 7:23; 11: 4 ; 24:7; 30: 22; 31: 1,33; 32: 38; Yezh. 11:20; 14:11; 36: 28; 37: 27; Zak. 8: 8; 13: 9), dan dalam PB (2 Kor. 6: 16; Why. 21: 3-7). Formula “Akulah Tuhan yang membawa engkau keluar dari Ur Kasdin – Akulah Tuhan Allahmu yang membawa keluar dari Mesir terdapat 125 kali dalam PL. Seluruh formula tersebut, menekankan kesinambungan antara masa lalu, masa sekarang dan masa akan datang.
Isi janji Allah adalah “berkat” ilahi, firman yang diberikan adalah penyataan janji, sumpah bahwa Allah sendiri akan dengan Cuma-Cuma melakukan atau menjadikan sesuatu bagi seluruh manusia, bangsa dan alam semesta pada umumnya. Penyataan Allah berupa “berkat” yang langsung, juga “jaminan” sebab firman Allah adalah Ya dan amin dan mengandung, dan berisi “janji” bahwa Ia akan bekerja pada masa yang akan datang, sehingga sejarah manusia berarti dari generasi ke generasi yang akan datang. Untuk memahami janji Allah, kita akan melihat dan membahas nanti dalam kitab-kitab PL.
Sebelum membahas tentang “janji” dalam tulisan ini akan dibahas pertama : Pandangan secara Historis Teologi PL. Kedua; Kemudian Multi Wajah dan Metodologi PL dan ketiga; Pokok-pokok atau Tema-Tema. Bagian terakhir tentang “Janji”. .
Tujuan teologia PL adalah penelitian antara manusia dengan Allah, hubungan penciptaan dan ciptaanNya. Hal ini penting karena manusia jatuh ke dalam dosa. Oleh karena itu, langkah yang dibuat Allah adalah perjanjian “keselamatan”. Janji itu datang kepada manusia melalui sejarah dan kebudayaan (bd. Kej. 3:15). Tujuan khusus teologia PL : Mahasiswa mampu memahami dan mendalami serta memanfaatkan metodologi teologi PL dan tema-tema pokok untuk mengumpulkan relevansinya dengan kehidupan orang beriman pada masa kini untuk itu kita harus memahami setiap tema. Dan sebelum kita masuk lebih jauh pada pembahasan-pembahasan lain, perlu kita tahu dasar Teologia PL dan PB.
Dasar Perjanjian Penciptaan
GOD / Pencipta


Mengalami perubahan melalui
kejatuhan manusia dalam dosa


Manusia / Dunia Ciptaan


Kanon ( Alkitab ) yang berisi Jadi manusia membutuhkan
Penebusan Allah Wahyu baru dalam penebusan
( PL dan PB )
B. SEJARAH TEOLOGI PERJANJIAN LAMA
PERKEMBANGAN AWAL
Pada zaman ini tidak ada bukti adanya suatu terorganisir dari teologi biblika dalam PL atau PB. Bukti paling dini ditemukan dalam karya Irenaeus (kira-kira 130-200AD) yang mengenali keprogresifan wahyu Allah. Kemudian, Agustinus (354 – 430 AD) menyarankan lima periode sejarah dari wahyu Allah. Pada masa Reformasi, isu-isu pada dasarnya soteriologikal, oleh karena itu teologi biblika sebagai suatu ilmu tidak berkembang pada masa itu.
ABAD KESEMBILAN BELAS
Teologi biblika pada zaman modern dapat ditelusuri sampai pada John Philip Gabler yang menjelaskan teologi biblika adalah ide religius dari Kitab Suci sebagai suatu fakta sejarah, yaitu untuk membedakan perbedaan waktu dan subjek, dan juga untuk membedakan tahap-tahap dalam perkemabangan ide-ide ini. Gebler menyangkal hal yang bersifat supranatural. Karya konservatif yang pertama tidak muncul sampai Christology of the Old Testament (1829-1835) dari E. W. Hengstenberg. Sebelumnya, Georg Lorenz Bauer (1755-1835) menerbitkan teologi PL yang pertama. Ia membagikannya ke dalam teologi, antropologi, dan Kristologi. Kemudian ada banyak karya-karya teologi PL yang lain, termasuk karya monumental (1873-1874) dari Gustave Friedrich Oelhler.
SEJARAH AGAMA-AGAMA
Sekolah sejarah agama-agama mengikuti semangat abad kesembilan belas. Mereka membangun di atas dasar teori evolusi Darwin dan mengaplikasikannya pada teori agama. Iman orang Ibrani tidak dilihat sebagai agama yang unik melainkan sebagai agama yang memiliki kaitan dengan agama-agama lain, oleh karena agama itu semua berevolusi dari sumber yang sama. Kesamaan antara Kekristenan, Yudaisme, Budhaisme, dan Hinduisme dapat terlihat. Oleh karena itu, PL dievaluai tidak sebagai wahyu ilahi melainkan berdasarkan perkembangan sejarahnya. Teologi PL, menurut sekolah sejarah agama-agama menerima teori Wellhausen yang menolak kesatuan PL dengan memisahkan tulisan-tulisan dari setiap buku dengan beberapa penulisan dari periode waktu yang berbeda. Oleh karena itu, PL telah direduksi menjadi suatu koleksi bahan-bahan yang berasal dari berbagai periode terpisah yang hanya berisi refleksi orang Israel atas berbagai agama primitive yang berbeda.
SEKOLAH SEJARAH KESELAMATAN
Sebagai reaksi terhadap pendekatan humanistic pada Alkitab adalah sekolah heilsgeschichte (sejarah Keselamatan) yang berusaha menekankan aktivitas Allah di dalam sejarah. J. C. K. von Hoofman dan teolog-teolog yang lain menyelidiki PL dan memperhatikan perkembangan progresif tentang keselamatan. Penekanan dari sekolah ini adalah pelayanan Kristus pada kedatangan-Nya yang kedua. Sekolah ini memiliki kelemahan dan juga kekuatan. Kekuatannya adalah kembali kepada wahyu ilahi; kelemahannya adalah penolakannya pada inspirasi Kitab Suci (mereka menerima beberapa pandangan kritik tinggi terhadap Alkitab). Sekolah ini telah memiliki pengaruh yang cukup kuat di abad kedua puluh.
NEO-ORTODOKSI
Pergeseran dalam teologi PL terjadi setelah Perang Dunia I. Alasan-alasan untuk hal ini adalah : (1) kehilangan kepercayaan secara umum pada naturalisme evolusionari; (2) sebagai suatu reaksi melawan keyakinan bahwa kebenaran sejarah dapat dicapai melalui ‘objektivitas’ ilmu pengetahuan secara murni atau bahwa objektivitas semacam itu dapat dicapai; dan (3) trend kembalinya suatu ide pewahyuan dalam teologi dialektikal (neo-ortodoksi). Teologi-teologi PL yang ditulis pada awal abad kedua puluh merefleksikan reaksi terhadap humanisme ilmu pengetahuan dan penerimaan atas subjektivitas neo-ortodoksi. Teologi PL Konig menolak teori dari Wellhausen tetapi memiliki kekurangan yang lain; Eissfeldt mengikuti pemikiran histories dalam menyangkali aktivitas Allah, namun ia menekankan sifat subjektif dari iman teolog dalam perjumpaan dengan Allah. Eichrodt menolak teori Eissfeldt dan memegang teori sejarah Gabler dan menekankan sifat subjektif dari studi ini.
Memang neo-ortodoksi secara umum memimpin pada sikap yang lebih serius terhadap Kitab Suci, namun pandangan ini tetap mengakui banyak aspek dari kritik tinggi, termasuk penyangkalan terhadap inspirasi verbal secara menyeluruh. Akhirnya, teologi-teologi PL ditulis dibahwa pengaruh penekanan neo-ortodoksi, yaitu berkaitan dengan unsur subjektif (untuk mengabaikan objektivitas) dalam pendekatan mereka terhadap Kitab Suci.
KONSERVATISME
Pada permulaan abad kedua puluh, Princeton Seminary memberikan tempat yang tinggi pada teologi konsevatif. Dari sekolah yang sama muncul beberapa karya-karya PL yang penting, yang utama adalah Biblical Theology dari Geerhardus Vos. Orang lain dari Princeton adalah seperti William Henry Green, Robert Dick Wilson, dan B. B. Warfield yang juga memberikan kontribusi yang kuat. Karya-karya yang lebih baru yaitu karya O. T. Allis dan E. J. Young dari Westminster Seminary telah memberikan studi teologis PL yang penting. Charles C. Ryrie dari Dallas Theological Seminary juga telah menulis sebuah teologi PL yang penting yaitu The Basis of the Premillennial Faith yang melihat kesatuan PL berdasar pada kovenan tanpa syarat antara Allah dengan Israel.
C. PANDANGAN SECARA HISTORIS TEOLOGIA PL
Untuk memahami pandangan-pandangan terhadap histories PL pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan: Apakah ada satu kunci untuk menyusunsecara progresif dan teratur berbagai subyek, tema dan ajaran PL ? Apakah para penulis PL secara sadar mengetahui kunci semacam itu ketika mereka melanjutkan memberikan tambahan kepada alur penyataan dalam sejarah itu ?
Jawaban dari pernyataan ini benar-benar menentukan arah dan tujuan teologia PL, yaitu kesatuan yang terfocus pada janji Allah kepada manusia berdosa (lihat dasar Perjanjian Penciptaan).
Menjawab pertanyaan di atas para teolog membuat istilah-istilah seperti : “konsep utama”, titik pusat, ide sumber hakiki atau ide mendasar.Rudolf Smend memilih istilah mitte, maka timbullah bermacam-macam argument dan pendapat tentang Historis PL.
1. Sejarah Purbakala dalam Alkitab.
Perjanjian Lama berakar dari sejarah bangsa Israel, di mana Allah berkarya (menyatakan diri-Nya), oleh karena itu kita memerlukan suatu pengetahuan tentang urutan peristiwa-peristiwa histories di dalam kehidupan bangsa Israel, sebab teologia Israel dan teologia kita berakar dari sejarah.
Penciptaan.
Para teolog sering memperdebatkan penciptaan, ada yang mengatakan penciptaan ada dua kali, Kej. ps. 1 dan ps. 2, bahkan ada yang meragukan kisah penciptaan dengan mengatakan apa yang ditulis dalam Kej. Ps 1 (kisah tentang penciptaan), ditulis sesudah pembuangan di Babel ???.
Riwayat penciptaan hanya satu, tetapi dalam Kej. Ps 2, dijelaskan sebagian dari ciptaan hari ke 6 – tentang binatang laut dan manusia dijelaskan lebih terperinci. Dalam Kej. 1, hanya berita singkat tentang penciptaan, baru dalam Kej. 2, diuraikan lebih luas dan lebih lengkap. Hal ini harus dipahami karena Kej. 2 penting sebagai persiapan untuk Kej. 3, di mana manusia jatuh dalam dosa.
Menurut teori Historis Kritis (liberal) penciptaan tidak dijadikan pada satu waktu, karena menurut mereka tidak ada manusia yang melihat. Namun kita percaya Musa tahu penciptaan karena nubuat yang diberikan Allah kepada Musa (nubuat surut), dan ini berlaku untuk penciptaan.Teori yang muncul lagi tentang penciptaan antara lain, karena beberapa tahun yang lalu di Timur Tengah ditemukan lempengan-lempengan tanah liat, tentang riwayat penciptaan di Mesapotamia yaitu versi Akkad (Babel). Riwayat penciptaan berupa mitos dari Akkad yang namanya Enuma Elisy. Seluruh mitos itu kurang lebih tujuh lempengan dan dalam setiap lempengan ada 900 baris. Kata pertama mitos ini “pada mulanya”. Tujuan mitos ini sebenarnya adalah untuk memuliakan dewa Marduk (dewa tertinggi).
Ceriteranya, pasangan dewa itu Tiamat (dewa Samudera raya) dan suaminya bernama Apsu (dewa perairan tawar, yang berbentuk ular), punya dua anak yang nakal. Apsu marah dan berencana untuk membinasakan anaknya, tetapi ibunya Tiamat membela, maka terjadi perkelahian. Apsu dibunuh Ea anaknya, karena ia memakai kuasa gaib. Menurut kepercayaan mereka tidak ada orang yang dapat membunuh Ea selain Marduk. Akhir kisah itu, nenek juga dibelah menjadi dua bagian. Satu bagian tubuh menjadi cakrawala dan bagian kedua jadi bumi ???.
Dari kisah ini para teolog histories Kritis (liberal) berpendapat, bahwa penciptaan diadopsi dan ditulis di Mesapotania abad ke V, ketika bangsa Israel di buang ke Babel selama 70 tahun. Mereka mengenal kisah tersebut di atas, lalu mengadopsi dan menyempurnakan dan tidak ada yang perlu dibuang dan itu dijadikan dasar penciptaan (Kej. 1). Menurut para teolog-teolog ini ada hubungannya dengan kisah penciptaan dalam Alkitab. Jadi penciptaan dalam Alkitab dihubungkan dengan tahyul.
Dalam Buku Teologi PL Yongky Tasman menulis; Focus penciptaan naratur Alkitab, adalah penciptaan benda-benda angkasa dan manusia – bukan dewa. Menurut tradisi Babel, manusia diciptakan supaya para dewa bebasa dari beban pekerjaan sehari-hari. Manusia diciptakan untuk melayani dewa-dewa. Di dalam Alkitab manusia diciptakan sebagai mahkota ciptaan, dan bukan manusia yang menyediakan makanan bagi Tuhan, tetapi dapat melayani Allah melalui tubuhnya.
Air Bah.
Tentang riwayat Air Bah pun menurut mereka hampir sama dengan penciptaan dari (mitos). Ada ditemukan dalam lempengan tanah liat beberapa ratus tahun yang lalu tentang Air Bah, namanya Gilgamesh Epos. Di seluruh dunia ada banyak mitos tentang air bah yang mana orang diselamatkan, tetapi para teolog liberal berkesimpulan itulah sumber yang dibuat dalam Alkitab (Epos Atrakhases).
Kisah tentang Gilgamesy inilah yang dimasukkan ke (Kej. ps 6 – 8). Pandangan ini salah besar sebab Kej. 6 – 8, sudah ada sebelumnya, kita tahu Abraham adalah orang yang menyembah Tuhan (bdg. Rom. 1: 19-21), pikiran mereka (teolog liberal) diserahkan dan dikuasai pikiran mereka yang sesat.
2. Pandangan Terhadap Pentateukh dalam Sejarah Penelitian PL.
a. Sejarah Teori Sumber Pentateukh thn.1900 dan sebelumnya.
Berabad-abad orang Yahudi menerima Pentateukh ditulis oleh Musa.Baru pada abad 18 SM mulai bergoyang, karena bagi banyak orang sarjana berpendapat bahwa Pentateukh tidak lagi ditulis Musa.Pendapat ini mendapat dukungan dari penemuan, bahwa dalam Alkitab banyak terdapat ketidak samaan dan kesalahan.
Ada empat pandangan baru mengenai Pentateukh. :
1. Apa yang ditulis dalam Pentateukh tidak sungguh-sungguh terjadi seperti itu, tetapi merupakan campuran dari budaya bangsa-bangsa lain (diadopsi) dan ada juga bahan-bahan dari yang lain
2. Pembagian Pentateukh dalam lima kitab tidak lagi dianggap asli, sebab yang diutamakan mereka ialah sumber-sumber, naskah dengan hipotesa (akibatnya Musa tidak diakui lagi sebagai penulis)
3. Waktu penulisan naskah tersebut ratusan tahun sesudah kejadian (masa pembuangan) yang dilaporkan
4. Dengan demikian Pentateukh tidak lagi firman Tuhan yang mutlak benar dan berwibawa untuk manusia pada segala abad.
Dari pemahaman di atas timbullah perkembangan-perkembangan tentang Pentateukh antara lain :
I. Perkembangan pertama.
a. Astrue thn. 1953. Dia meneliti PL dan melihat beberapa kejanggalan antara lain:
1.dalam Kej. 1 dipakai kata Elohim
2.dalam Kej. 2 dipakai kata YHWH
Kesimpulan yang ditarik, darimana kita/manusia tahu Alkitab ditulis manusia, sebab manusia belum ada ? Kesimpulannya;
* Musa rupanya menyusun penciptaan berdasarkan bahan yang sudah ada sebelumnya
* Bahan yang dipergunakan Musa adalah riwayat yang bertentangan dengan teologinya, yang lain memakai Elohim, dan yang lain memakai YHWH. Jadi mereka memakai pandangan manusia.
b. Masing-masing dari dua naskah, sumber.
Asumsi Astrue, karena ia tidak memperhatikan bahwa perbedaan disebabkan hal teologis. Dalam Kej.1 – Allah sebagai pencipta yang berkuasa. Kata Elohim, akar katanya El = artinya kuasa, kekuatan. Elohim Allah yang berkuasa, beda dengan manusia yang lemah. Supaya jelas tentang Allah yang dimaksud, tiap Allah mempunyai nama – itu disebut YHWH, nama panggilan Elohim – Allah, dan YHWH – Tuhan.
Dalam Kej.1, menggunakan nama Allah yang ditekankan di sini Allah pencipta, sedangkan dalam Kej. 2, ada dua nama; Tuhan dan Allah digabung (Elohim dan YHWH). Dari penjelasan ini kita melihat ovservasi Astrue benar tetapi kesimpulannya keliru. Dari dan akibat teori Astrue ini para teolog membuatnya menjadi “sumber” dan dasar mereka meneliti Pentateukh.
ii. W.de Wette.
Dia tidak percaya kepada hal-hal yang supernatural, menurut dia tidak ada tulisan yang ditulis sebelum Daud, dengan kata lain ia tidak mau menerima Musa penulis Pentateukh. Pandangan keduanya tentang kitab Ulangan, kitab ini juga tidak ditulis oleh Musa, tetapi ditulis sekitar thn. 622 sM mengapa ? Menurut dia pada waktu raja Yosia mengadakan reformasi di Yehuda dan ditemukan taurat kembali. Menurut dia kitab yang ditemukan dikarang pada waktu itu oleh Yosia dan Imam-Imamnya, supaya kitab itu lebih berwibawa, maka dibuat seolah-olah berwibawa, dan dibuat atas perintah raja Yosia. Pandangan ini dipegang sampai sekarang oleh para teolog histories kritis pada PL disingkat dengan sumber D = Ulangan.
iii. Julius Wellhausen thn 1876.
Dia menemukan hal-hal yang baru dalam penelitiannya terhadap PL. Ia juga mengikuti pandangan-pandangan orang lain, melalui pandangannya teori sumber berkembang keras, ada dua penyebabnya :
a. Julius Wellhausen menguraikan teori sumber dengan sistimatis dan dengan jelas sehingga gampang diterima orang lain
b. Mengaitkan urutan terciptanya sumber-sumber dengan cara berpikir evolusi, Hegel – Darwin (maksudnya dari yang paling primitif – supernatural – komplit).
Dia menyumbangkan kepada teologi, mula-mula ibadah primitif, kemudian berkembang menjadi luas (sempurna). Ini “salah” sebab Allahlah yang memberikan perintah untuk ibadah.Akibat dan dampaknya untuk teori sumber, Imamat tidak lagi diberikan oleh Tuhan tetapi berkembang menjadi sempurna yang diberi kode “ P “ dari bahasa Jerman “Priesticedex” abad ke 6. Jadi Imamat (Pentateukh) yang ditulis kira-kira thn. 1400 sM tidak lagi diterima dan menurut para teolog liberal tidak sempurna.
Argumen Julius W tentang Kej. 1, dari sumber “ P “ abad ke 6, menjadi dasar mereka berkata Pentateukh bukan ditulis Musa.
Ada empat sumber untuk meneliti Pentateukh yang dipakai dan ciri khasnya :
1. Sumber pertama ialah sumber J, Y “Yahweh”. Menurut mereka di kerajaan Selatan, dikarang 850 sM, oleh orang yang tidak dikenal namanya. Tulisannya baik dan mengangkat tokoh-tokoh. Tuhan sering disebut dengan cara antropomorfisme – bahasa yang sederhana tapi penuh hikmat.
2. Sumber kedua “ E “ dikarang thn 750 sM, di kerajaan Utara. Menurut mereka sumber ini tidak ada antropomofisme, tetapi yang ada mimpi-mimpi. Mimpi Yusuf juga menurut mereka, berasal dari sumber E.
3. Sumber “ D “ thn 620 sM disusun dibawah imam besar Hilzkia. Naskah ini menjadi pengaruh besar dalam reformasi Yosia. Nabi Yeremia memainkan peranan yang penting, menurut mereka kumpulan imam-imamlah yang menyusunnya.Tekanan teologi menurut sumber “D” hanya satu, yaitu pusat penyembahan di Yerusalem dan isinya lebih banyak khotbah dan riwayat-riwayat.
4. Sumber ‘P’ dikarang selama puluhan tahun mulai dari Yehezkiel sampai dengan Ezra ahli taurat thn 450 sM. Dibawah pimpinan Ezra ditambah. Ciri khas P, sistematis asal mula sesuatu, dan memberikan daftar silsilah, detail-detail korban dalam ibadah dan soal perjanjian Allah dan manusia. Juga ditekankan tentang kesucian Allah yang tidak bisa didekati.

Teori-teori ini mencapai kejayaannya, dalam penelitian selanjutnya kritik histories berkembang pesat, sehingga menjadi beberapa kritik, yaitu kritik bentuk yang mencoba meneliti bentuk-bentuk tradisional sebelum tulisan.Kristik tradisi yang menyelidiki bagaimana tradisi lama berkembang ke dalam situasi baru pada penulisannya. Kritik redaksi yang menyelidiki bagaimana tradisi yang berkembang itu diolah oleh redaktur dan bentuk tulisan, seperti kritik teks, yang menyelidiki bermacam-macamn teks yang digunakan sebagai sumber penerjemahan Alkitab, dan kritik kanon yang menyelidiki bagaimana proses berkumpulnya kitab-kitab dan ukuran pengumpulan menjadi Perjanjian Lama dan Baru.
Kritik-kritik Alkitab ini dibagi dalam dua jenis, yaitu kritik histories, bentuk dan tradisi adalah golongan kritik yang lebih tinggi (Higher Criticism), sedangkan kritik teks, kritik kaum tergolong kritik rendah (lower Criticism).
Kitab Perjanjian Baru pun tidak diabaikan oleh para ahli histories kritis untuk dikritik dengan menggunakan metode kritik yang sama. Masalah yang disoroti adalah keempat Injil, kehidupan Tuhan Yesus dan-tulisan-tulisan Rasul Paulus.
Dengan berpatokan pada sumber-sumber di atas para teolog menyelidiki Pentateukh dan PL. Akibatnya Pentateukh bukan lagi fakta Allah tetapi pemikiran-pemikiran teologis. Walaupun keempat aliran ini mempunyai pandangan yang berbeda tentang Pentateukh, tetapi dikemuduan hari ke empat teori ini disatukan ???.


Evaluasi :
a. Kekurangan para ahli PL di Eropa pada waktu itu, mereka kurang kritis pada teori-teori yang diberikan, melainkan menerima dan menghargainya dengan sejumlah ajaran-ajaran lain
b. Ahli-ahli ini makin lama makin kehilangan pandangan pada PL secara menyeluruh, mereka sebagai tehnisi yang membagi-bagikan fasal PL.
c. Keyakinan terhadap teori sumber menghancurkan keyakinan kepada firman Allah.

b. Tanggapan Terhadap Teori Sumber.
1. Sumber-sumber yang dimaksudkan tidak pernah ditemukan (ini benar-benar satu teori sumber). Setiap Alkitab PL mempunyai sumber yang lain, yang satu katakan ini dari sumber Y dan yang lain dari D. Jadi faktanya kurang jelas.
2. Teori sumber berdasarkan rasionalisme, teori ini muncul pada abad ke 18 sesudah pencerahan, di mana semua cendikiawan dipengaruhi oleh ratio. Segala yang supernatural ditolak, termasuk inspirasi Alkitab. Kalau menyelidiki Alkitab dengan demikian pasti gagal sebab Alkitab penuh dengan hal-hal yang supernatural.
3. Kriteria, patokan, ukuran, gaya bahasa yang berbeda-beda dan pembagian yang tidak masuk akal bukan disebabkan sumber-sumber, tetapi karena bahan yang berbeda-beda menuntut bahasa yang berbeda.
4. Pemakaian nama-nama Allah yang berbeda bukanlah kriteria yang tepat untuk menemui satu sumber, misalnya penulis yang lain hanya pakai nama Yahwe, Elohim, Adonai. Contohnya nama Yitro – Rahuel sering nama itu disebut dari dua sumber pada hal orangnya sama.
5. Duplikat riwayat rangkap, adanya dua laporan riwayat yang agak mirip dengan beberapa perbedaan, ini tidak berarti ada dua penulis yang membuat, laporan yang berbeda, contoh; Kej. 12: 10-12, Abraham menyangkal istrinya – dilakukan lagi dalam Kej. 20: 2 – dan kisah itu menular kepada anak-anak Ishak Kej. 22: 11.
Menurut teori sumber hanya satu sumber, tetapi lain-lain penulis, dengan demikian lain sumber lain (versi).Dibawah ini, ada dua peristiwa di tempat yang berbeda-beda. Kalau kita mengikuti teori sumber akan kehilangan berkat Tuhan. Hal yang sama tentang Yakob – Israel Kej. 32: 22-35 – sungai Yabok – Kej. 35: 9-10 – Betel. Ini dua versi yang berbeda-beda, dan bahaya kalau mengubahnya.Di Betel Kej. 35: 9-10, itu penetapan laporan tentang satu hal, diulangi. Dalam budaya Timur Tengah, kalau diulangi, maksud untuk menekankan sesuatu yang penting, dan untuk melengkapi.
6. Cara menulis buku di Timur Tengah sama dengan orang lain, seandainya teori sumber itu benar, orang ibrani akan lain dengan orang lain dalam mengarang buku.
7. Bukti-bukti Arkhiologi. Menurut pandangan ahli-ahli teori sumber, Pentateukh tidak memiliki nilai histories secara tertulis, karena ditulis pada tahun-tahun yang lampau, adalah anggapan yang salah. Tekanan Pentateukh itu apa fakta tidak penting, tetapi makna teologis, hikmatnya yang ada di dalamnya paling penting, sebab teologis tanpa fakta itu adalah pandangan/tafsiran.
8. Keberatan etis dalam teori sumber. Di dalam kitab Ulangan menurut mereka yang menulis adalah Yosia dan Imam Hilzkia, ini hanya dikutip untuk menguatkan kewibawaan Yosia. Pada hal dalam Ul. 1: 1 jelas inilah perkataan-perkataan yang diucapkan Musa. Menurut teori sumber P ditulis ditulis di Babel – bukan Tuhan berfirman kepada Musa. Kita yakin Musa menulis Pentateukh hal ini ditegaskan ucapan Tuhan Yesus sendiri (lih. Luk. 24: 44; Yoh. 5: 46).
9. Teori sumber menjadikan PL buku manusia kerena menolak Wahyu dan inspirasi Allah.

3. Pandangan Alkitabiah tentang Pentateukh
a. Keyakinan bahwa seluruh Alkitab adalah firman Allah yang tidak dapat diragukan (bd. Mat. 5: 18-19; Yoh. 5: 46-47; Yoh. 10: 35; 17: 17 baca)
b. Dalam Alkitab sendiri Pentateukh selalu disebut sebagai karangan Musa (lih. Ezr. 6: 18 “ sesuai dengan yang ada dalam tulisan Musa,..” di Ezr. 7: 6 dikatakan ‘Taurat Musa’. Dalam PB pandangan tentang Taurat (lih. Mrk. 12: 26; Luk. 24: 27, 44; 1 Kor. 9: 9 dan Rom. 10: 5). Selain ayat-ayat di atas ada beberapa pristiwa pribadi yang dikatakan sebagai histories contohnya Habel (lih. Luk. 11: 21), dan Nuh (li. Mat. 24: 37-39) – Abraham (Yoh. 8: 56).
c. Apa artinya “kiab Musa” = Musa menulis. Apakah itu berarti; sungguh Musa sendiri yang menulis, kata demi kata ditulis oleh Musa sendiri atau garis besar dan ditambahkan orang lain ? Untuk menjawabnya kita harus melihat pandangan-pandangan manusia yaitu orang Yahudi dan juga pandangan manusia masa kini. Kita terikat pada tulisan asli tanpa menambah dan mengurangi. Kita menyadari bahwa proses penyalinan ada kemungkinan kesalahan, kekeliruan, namun bukan itu menjadi dasar untuk meragukan.

Di dalam PL tidak pernah dikatakan secara jelas siapa penulis Pentateukh, walaupun demikian ada bagian-bagian Pentateukh yang dikatakan ditulis oleh Musa (Kel. 24: 4; Bil. 33: 2).Lain halnya dengan nabi-nabi. Oleh karena itu kita tidak boleh terikat pada apa yang dikatakan oleh orang Yahudi. Rupanya ada unsur-unsur dalam kitab-kitab Pentateukh yang bukan dari Musa contohnya; Kej.36: 31 – sebelum ada raja; Kel.16: 35 – makan manna sebelum tiba di Kanan - bandingkan Yos.5: 12; Kel.11: 3 – Musa terpandang di Mesir; Bil. 12: 3 – Musa lembut hatinya,…Kata-kata, kalimat-kalimat seperti di atas tidaklah dapat dibuat sebagai dasar meragukan dengan mengatakan bahwa kitab Pentateuk tidak ditulis Musa.
Pandangan kita Musa menulis Pentateukh secara keseluruhan tetapi kemudian ada hamba Tuhan yang meng up to date kan (sehingga mengalami sedikit perubahan).

C. METODOLOGI TEOLOGI PERJANJIAN LAMA
Dalam perkembangan teologi, ada perbedaan tentang metodologi teologi PL. Menurut pakar teologi Von Raad, tidak perlu melandaskan kerugma kepercayaan kepada sesuatu kenyataan yang obyektif menurut sejarah (pada satu peristiwa). Allah lebih merupakan pernyataan iman manusia. PL bukan merupakan sumber iman mereka. Setiap periode mempunyai teologi sendiri dengan berbagai ketegangan, kontradiksi teologi pada zaman yang lain. Munurut dia tidak ada perpaduan di dalam teks, hanya ada kecenderungan kepada penyatuan. Perbedaan lain menyangkut aspek teologi PL itu semata-mata karena “pendekatan”. Apakah deskriptif yang sempurna. Tidak ada kesepakatan sehubungan dengan metodologi teologi PL. Selama dua abad telah ada cukup banyak keragaman dalam perkembangan teologi PL. berikut ini adalah beberapa pendekatan yang telah digunakan selama ini.
1. METODE DIDAKTIK DOGMATIK
Istilah dogmatic menghubungkan metode ini dengan dogmatic atau teologi sistematik. Metode ini mengikuti struktur Allah-manusia-keselamatan. Pertama kali dimunculkan oleh Georg Lorenz Bauer di tahun 1796 dan yang lebih terkini adalah karya R. C. Denton. Denton menyatakan bahwa afirmasi yang paling dasar dari agama PL yaitu : Yahweh adalah Allah Israel dan Israel adalah umat Yahweh.

2. METODOLODI PROGRESIF GENETIK

Pendekatan ini menelusuri hubungan antara Allah dalam masa yang signifikan di sejarah PL, khususnya yang berpusat pada kovenan yang dibuat oleh Allah dengan Nuh, Abraham dan Musa. Metode ini dimunculkan oleh Chester K. Lehman yang mendapatkan metode ini dari gurunya, yaitu Geerhardus Vos. Lehman menyatakan ‘Kami menemukan bahwa garis keturunan yang Allah buat dengan manusia… Rencana saya adalah mempertimbangkan secara individu dan secara berurutan sesuai dengan waktu kovenan itu dibuat oleh Allah dengan Nuh, Abraham, Musa dan sampai pada Kristus. Semua pengajaran yang berpusat pada kovenan-kovenan ini akan dipertimbangkan dalam kaitan dengan beberapa kovenan ini’. Eichrodt juga mengikuti prinsip dasar ini (meskipun ia menyusunnya dalam kategori berikut ini). Lehman juga mengakui pandangan dari Gustave Oehler R. E. Clements dari Universitas Cambridge dapat dimasukkan dalam kategori ini.

3. METODE LINTAS BAGIAN

Metode ini dikembangkan oleh Walther Eichrodt pada tahun 1930-an dengan mengusulkan bahwa kovenan itu merupakan pusat dari studi PL. Dia mendasarkan pada sifat histotisitas dari PL dan mengembangkan teologinya dengan membuat suatu lintas bagian melalui proses historikal, di mana terhampar dengan jelas truktur inti dari agama. Dari prinsip kovenan, Eichrodt mengembangkan tiga kategori utama : Allah dan umat-Nya, Allah dan dunia, dan Allah dan manusia untuk memperlihatkan perkembangan pikiran dan institusi. Teolog Belanda C. Vriezen mengikuti tesis yang hampir sama mendirikan ‘masyarakat’ sebagai pusat studi dari PL. Walter Kaiser Jr. juga melihat suatu kesatuan dari PL yang berpusat pada ‘janji’ di PL dimana setiap penulis dari PL secara sadar memberikan sumbangan berkaitan dengan tema ini.

4. METODE TOPIKAL

John L. McKenzie mengembangkan teologi PL tanpa pertimbangan PB. Sebagai kontras dengan teori teologi-teologi PL yang lain yang berusahan untuk melihat hubungan antara kedua perjanjian tersebut. McKenzie menulis seakan PB tidak ada. Dia setuju dengan Hamack atau Bultmann yang dengan jelas menyatakan bahwa PL bukan sebuah buku Kristen. McKenzie mengembangkan teologi PL-nya sekitar pengalaman orang Israel dengan Yahweh, Ia mengenali bahwa tidak setiap pengalaman memiliki nilai yang sama. Dan ia secara selektif menentukan apa yang dimasukkan dalam studinya, namun menekankan bahwa pengalaman secara keseluruhan adalah hal yang penting. Karya-karya lain yang cocok dengan kategori ini adalah karya Georg Fohrer, Basic Theological Structure og the Old Testamrt dan w. Zimmerli, Old Testament Theology in Outline.

5. METODE DIAKRONIK

G. von Rad yang menulis dua volume buku Old Testament Theology, mengatakan bahwa teologi PL harus ‘menceritakan kembali’ kerugma Israel atau pengakuan PL yang dinyatakan oleh orang Israel dalam konteks sejarah. Yang dimaksudnya bukan fakta sejarah, melainkan ‘penafsiran sejarah’. ‘Penceritaan kembali’ bukan merupakan pernyataan iman; mereka merupakan tindakan di mana umat mengekspresikan kesadaran hubungan mereka dengan Allah. Von Rad tidak menemukan tema sentral dalam teologi PL-nya, tetapi ia puas dengan menyampaikan apa yang PL katakan tentang isinya sendiri.
6. METODE FORMASI TRADISI
Hartmut Gese mengembangkan teori PL yang harus dimengerti secara estetika sebagai suatu proses sejarah dari suatu perkembangan… yang ada bukan teologi Kristen atau teologi Yahudi dari PL, tetapi satu teologi dari PL yang disadari melalui formasi tradisi PL. Dia melihat relasi dan kesatuan antara PL dengan PB, sehingga PB ‘melanjutkan PL… membawa PL pada akhirnya. Kesatuan dari kedua perjanjian ini ditemukan dalam ‘proses tradisi’ dimana ada kesamaan pada keduanya. PB harus dilihat sebagai tujuan dari PL. Dengan pendekatan ini. Gese, seperti halnya von Rad, tidak melihat tema yang sama atau tema utama dalam studi PL. Peter Stuhlmacher yang juga berasal dari sekolah Formasi –Tradisi, berargumentasi tentang adanya tema sentral, yaitu ‘Injil tentang justifikasi dalam Kristus’.
7. METODE TEMATIK DIALEKTIKAL
Sejak W. Brueggeman melihat suatu keragaman dalam metode teologi PL, ia telah mengusulkan suatu relasi tematik dan dialektik. Ia mengutip karya Terrien, Westermann, dan Hanson, yang masing-masing menggunakan system dialektikal (proses penalaran yang berusaha untuk mencari solusi dari konflik antara ide-ide yang berbeda). Misalnya, Terrien berpendapat bahwa realitas kehadiran Allah merupakan pusat dari iman yang Alkitabiah, setiap hal lainnya bergantung pada itu. Hal ini juga memberikan kesinambungan antara PL dan PB. Dialektik yang diberikan oleh Terrien adalah etikal/aestetik. Aspek ‘etikal’ dari dialektik disajikan dalam materi historikal-kovenantal dan yang ‘aestetik’ dalam materi Amsal dan Mazmur.

8. METODE TEOLOGI BIBLIKAL BARU

Bevard Childs telah menyerukan tentang ‘teologi biblikal baru’ yang bergerak melampaui metode kritik historis (yang meninggikan penalaran manusia sebagai otoritas tertinggi dan memperlakukan Alkitab sama dengan buku-buku yang lain), yang mendasari hampir semua teologi PL. Dia mengusulkan untuk meninggalkan metode kritik histories (menolak sekolah sejarah agama) dan mengusulkan sebagai tesisnya kanon dari gereja PB. Dia menyarankan untuk berhubungan dengan teks Alkitab dalam bentuk akhirnya sebagai metode yang seharusnya untuk merumuskan teologi PL.

No comments